Laskar Pelangi: Sebuah Teladan
Cerita masa kecil Andrea Hirata di pelosok pulau Belitung itu memang fenomenal. Tidak hanya sukses secara komersial, filmnya yang sedang main di sejumlah bioskop saat ini mungkin sekali juga akan sukses besar karena Andrea telah memesona banyak orang.
Laskar Pelangi mengundang banyak interpretasi. Sebuah biografi yang nyelengeh dan tidak linear, sebuah karya antropologis, sastra humanis (memang ada sastra yang tidak humanis ya?). Tapi lebih dari itu semua, LP menyajikan satire sekaligus cermin untuk sebuah keteledanan. Sesuatu yang langka di negeri ini..
Orang bijak bilang hidup adalah perjuangan. Andrea, dan kebanyakan dari kita, memang bukan child born with silver spoon on the mouth. Buat mereka setiap kesempatan adalah peluang: carpe diem, seize the day. Andrea beruntung mendapatkan kesempatan itu, dan memanfaatkan sebaik-baiknya hingga ia menjadi seperti sekarang. Tapi tidak buat sahabatnya Lintang dan Mahar. Potensi mereka berdua begitu besar, paling tidak demikian kesaksian Ikal, panggilan akrab Andrea. Potensi besar itu hilang percuma karena kesempatan mereka terenggut kesulitan ekonomi. Sebuah masalah klasik bangsa Indonesia sejak sebelum merdeka dulu.
Lintang dan Mahar tidak sendirian. Masih banyak ribuan bahkan jutaan potensi-potensi bakat besar di seluruh Indonesia yang tak sempat berkembang karena kemiskinan. Pendidikan memang tidak pernah dilihat penting oleh penguasa negeri ini. Dari tahun ke tahun biaya riil untuk mendapatkan pendidikan yang memadai makin mahal, bahkan banyak pengusaha konglomerat melihatnya sebagai peluang bisnis menggiurkan. Dulu cukup membayar Rp 100,000 per semester untuk kuliah di sebuah PTN ternama, kini untuk PTN yang sama dibutuhkan biaya beratus-ratus kali lipat.
Saat kuliah dulu, masih sering bertemu mahasiswa dari negeri Jiran yang begitu bangga bisa bersekolah di Indonesia di kampus yang menjadi Center of Excelence. Kini sebaliknya, banyak orang Indonesia yang mengirim anaknya bersekolah ke Malaysia atau Singapore karena tidak percaya lagi dengan mutu pendidikan negeri sendiri.
Tapi di sisi lain, kita akan jauh lebih sering menemukan Toyota Alphard, Jaguar, Mercedez S Class, BMW serie 7 di jalanan Jakarta daripada di Malaysia atau Singapore sekalipun. Pelataran parkir gedung Parlemen di Senayan seperti miniatur Tokyo Motor Show. Lebih dari dua minggu lalu, di salah satu segment acara Kick Andy ditampilkan sebuah sekolah Muhammadiyah di pelosok Tapanuli Selatan yang hanya punya seorang guru, yang sejatinya tidak memiliki kualifikasi sebagai guru, namun terpanggil karena tidak tega melihat anak-anak di desanya yang belum dialiri listrik itu tidak sekolah karena tidak ada guru. Sementara di periode yang bersamaan, ada satu tokoh parpol yang dekat dengan Muhammadiyah gencar menggelontorkan uang milyaran rupiah untuk kampanye citra pribadi.
Negeri ini memang penuh ironi...

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda